Hey, kena razia (slip biru)

May 2nd, 2012 § Leave a Comment

beberapa hari belakangan ini kota jogja dan sekitarnya sedang marak diadakan razia kendaraan bermotor roda dua, beberapa sumber mengatakan bahwa peningkatan intensitas razia dikarenakan jumlah aksi kejahatan dan ke-nekat-an juga semakin merebak, *hm…

apapun itulah, intinya saya terjaring razia dan tidak dapat menunjukan SIM. akhirnya saya kena tilang, dan alhasil dari niatan saya coba-coba meminta slip biru, maka terbitlah sebuah tulisan ini.

beberapa sumber mengatakan bahwa meminta slip biru itu berarti pengendara yang terkena tilang menyatakan “mengaku bersalah” dan kemudian prosedurnya adalah membayar ke rekening BRI (negara), tanpa harus datang ke persidangan, dan kemudian mendapatkan bukti pembayaran dari BRI yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengambil barang sitaan (biasanya stnk kendaraan).

3 minggu setelah tanggal kejadian operasi (razia kendaraan) tersebut, akhirnya saat persidangan pun dilangsungkan, selama 3 minggu itu saya beberapa kali datang ke BRI yang tempatnya berbeda-beda, dan jawabannya pun rata-rata sama : “maaf mas, ini di surat tilangnya tidak disebutkan nominalnya anda harus membayar berapa, apa anda mau membayar denda maksimal?
“emang denda maksimalnya berapa?”
“satu juta rupiah. karena disitu ditulis pasal 281 yang artinya anda tidak mempunyai sim”
Pasal 281 UULLAJ No. 22 Tahun 2009, “Pengemudi Kendaraan Bermotor Tanpa SIM Di Pidana 4 Bulan Penjara atau Denda 1 Juta Rupiah”.

okay, sedikit sport jantung juga. maka dari itu saya memilih menunggu sampai waktu persidangan tiba, dimana kabar yang beredar adalah ketika datang ke persidangan, dendanya berkisar 25ribu hingga 30ribu. (sesuai keputusan dan kebijakan daerah masing-masing).

siang ini saya berangkat ke pengadilan negeri bantul, karena memang saya terjaring razia di daerah bantul. sesampainya disana saya langsung masuk ke ruang pelayanan bagian tilang, ketika saya duduk dan hendak dibacakan pasal, petugas yang sedang berada diruang itu bertanya kepada saya,
“surat tilangnya mana?”
“ini bu” (sambil menunjukan surat tilang berwarna biru)
“oh kalau dengan slip biru ini anda harus bayar ke bank”
“he?” (pura-pura tidak tahu)
“coba ke polres saja lalu tanya ke bagian tilang, minta tukar dengan slip merah dan lalu balik kesini, nanti disini membayar 25ribu, itupun kalau diperbolehkan sama mereka”

lalu saya meluncur ke polres bantul dan segera mencari loket pelayanan bagian tilang, disana saya bertemu dengan pak polisi yang baik hati. dan perbincangan itu dimulai
“permisi pak, saya dari pengadilan dan disuruh menukar slip biru ini dengan slip merah (nyerah minta slip merah karena takut bayar mahal kalau pakai slip biru)
“lho mas, anda itu sudah benar, agak susah memang mendidik masyarakat agar taat hukum”
“lha gimana pak baiknya?”
“gini aja, anda bayar ke BRI, lalu setelah itu anda balik lagi kesini, nanti saya serahkan stnk sitaannya”
“*glek* (alamat mbayar 1 juta nih)”

saat melihat polisi tersebut mencari2 berkas tentang pasal pelanggaran yang ditulis di surat tilang, saya mengagumi kebijaksanaan sang polisi dengan perkataannya tadi,
“nah ini mas pasalnya, jadi sekarang anda membayar 100.000 saja”
“*he?* (bertanya dalam hati kenapa tidak 1juta)
“kenapa mas kok mukanya bingung gitu, anda tidak dikenakan denda maksimal koq, karena denda maksimal diberikan atas dasar apabila di lapangan anda memiliki kesalahan yang berat juga, misal tabrakan yang menyababkan kematian, atau anda sudah ditilang berkali-kali dengan pelanggaran pasal yang sama, tapi ini masuk kategori pelanggaran ringan kok, maka sekarang saya denda 100.000 saja”
“*sumringah*, baik pak, siap komandan”
“tapi begini, nanti semingu lagi anda ke pengadilan negeri, lalu menunjukan bukti penyetoran dari BRI, kalau misal ada koreksi putusan ulang dari pengadilan, dan ternyata anda hanya dikenakan denda minimal (25.000) maka anda boleh mengambil sisa uang yang sudah anda setorkan sejumlah 100.000 tadi. paham? “
“terimakasih pak”

Alhamdulillah, dan akhirnya sekarang stnk (sitaan) sudah ditangan, itulah pengalaman tentang dunia pertilangan, semoga semakin banyak masyarakat yang ikut membantu polisi menciptakan hukum yang bersih.

happy blogwalking guys.

Hey, SIM A dan Jalur Bersih

April 27th, 2012 § Leave a Comment

Memiliki dan mendapatkan SIM dengan cara jujur di negara ini memang sesuatu kebanggaan tersendiri, namun keinginan tersebut memang harus dibayar mahal, bisa jadi karena minimnya pengetahuan dan kemampuan seputar ujian teori, maupun seputar ujian praktek, atau bisa jadi karena beberapa faktor yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. karenanya agar bisa lolos ujian teori dan praktek maka diperlukan perhatian ekstra.

image saya tentang dunia pembuatan sim di negara ini memang sempat buruk, karena saya pernah membuat sim dengan cara yang tidak jujur, dan biaya yang saya keluarkan pada saat itu pun cukup mahal. singkat cerita, pada saat itu saya mendapatkan jasa calo, tinggal bayar, tidak perlu ujian teori dan praktek bisa langsung mendapatkan SIM.

tapi saat ini (2012) sepertinya jasa calo mulai meredup eksistensi nya, entah mungkin dikarenakan sistem kepolisian yang semakin ketat, dengan meminimalisir pungutan-pungutan liar di lingkungan mereka. apapun alasannya, namun keadaan ini patut disyukuri.

tibalah saya pada suatu hari dimana kakak saya yang saat ini mengambil kuliah S2 di norwegia sedang liburan ke indonesia, dia mengajak saya untuk membuat SIM A, dengan alasan bahwa dia ingin memiliki izin mengemudi di negara tempat dia menimba ilmu tersebut, dengan cara melegalisir SIM A menjadi SIM International (International Driving Licence) maka SIM keluaran indonesia tersebut bisa berlaku di seluruh negara di belahan dunia ini.

sesuai ekspektasi saya, bahwa ujian teori pasti lolos, tapi masalah ujian praktek? pasti tidak lolos.. dan benar, kita berdua sama-sama tidak lolos untuk kesempatan ujian praktek yang pertama, seminggu kemudian pihak kepolisian memberikan kesempatan kedua, dan pada kesempatan tersebut kakak saya berhasil lolos ujian praktek, tapi saya tidak. baru pada kesempatan ketiga saya berhasil lolos,

catatan biaya dan kewajiban pembuatan sim (dalam kasus ini saya berdomisili, tinggal, dan memiliki KTP Yogyakarta)

langkah 1. fotokopi ktp, dan membuat surat keterangan sehat. biasanya di sekitar polresta ada layanan yang menyediakan pembuatan surat keterangan sehat.
biaya : kurang lebih 20.000 rupiah.

langkah 2. registrasi dan penerimaan stop map yang diisi data diri pemohon sim.
biaya : gratis

langkah 3. pengembalian form registrasi ke loket registrasi.
biaya : gratis

langkah  4. menunggu panggilan untuk tes ujian teori. lama waktu pengerjaan kira-kira 45 menit, soal sebanyak 30 nomer, bisa dinyatakan lulus apabila berhasil mengerjakan 20 soal dengan benar.
biaya : gratis

langkah 5. (apabila lolos ujian teori) mendapatkan form tanda lulus ujian teori kemudian dirujuk ke lokasi tempat diadakan ujian praktek.
biaya : gratis

langkah 6. ujian praktek. untuk pemohon sim C (roda 2) materi ujiannya adalah mengendarai motor dengan metode zig-zag melewati palang-palang yang berdiri sejajar dengan jarak berkisar 1 meter, kemudian melakukan manuver dengan membentuk huruf 8. setelah itu melakukan manuver dengan membentuk huruf U.
untuk pemohon sim A (mobil) materi ujiannya adalah parkir paralel dengan diberi kesempatan 2 kali gerak, mundur dan maju. setelah itu parkir seri dari kanan, dan parkir seri dari arah kiri, diberi kesempatan 1 kali gerak mundur. kemudian menaiki tanjakan, berhenti dalam posisi tanjakan, kemudian melanjutkan maju dengan syarat mobil tidak boleh mundur.
biaya : gratis

langkah 7. membayar biaya SIM (bila ujian praktek lolos) anda akan diberi surat pengantar bahwa anda telah lulus ujian praktek dan kemudian membayar di loket BRI di tempat yang sama.
biaya : SIM A (Rp. 120.000,-) SIM C (Rp. 100.000,-)

langkah 8. foto dan penerimaan sim.
biaya : gratis.

jadi total keseluruhan biaya yang dikeluarkan adalah :
SIM A : 140.000
SIM C : 120.000

alhamdulillah wasyukurillah, akhirnya saat ini saya memiliki sim A dan sim C dimana semenjak pada tahun 2003 saya tidak pernah memilikinya, haha.. bandel juga saya ya.

selamat mencoba membuat sim dengan cara yang jujur, dijamin ada rasa kebanggan yang besar dan kepuasaan memiliki sim dengan biaya yang murah.

good luck buat yang ingin membuat SIM..

 

 

Hey, Jangan Bertanya

November 30th, 2011 § 2 Comments

wow.. kenapa ga boleh bertanya?
seminggu terakhir ini ada hal yang selalu membuat saya gemes setiap kali membuka facebook, entah bagaimana ceritanya hingga saya bisa masuk kesebuah group di facebook. group ini kalau saya lihat anggotanya, isi nya adalah orang-orang yang mahir dalam dunia jaringan. awal kali saya melihat baris pertama group discussion disitu terbaca hal-hal seputar pertanyaan tentang dunia jaringan. WAH! kesan pertama yang muncul adalah perasaan senang karena suatu saat ketika saya berhadapan masalah dengan ilmu jaringan, saya bisa menanyakan langsung disitu, ekspektasi saya ternyata terlalu muluk ketika sebuah cerita dimulai :

awalnya saya hendak merancang dan mengimplentasikan sebuah PC PROXY,  di jaringan RT RW net yang saya kelola. yup. apa itu PROXY? anda bisa baca lengkap di sini.  alhasil wajar dong ya kalau saya memposting pertanyaan disana, saya tidak ingin terlalu subyektif merangkum diskusi yang ada hingga sampai pada kesimpulan yang membuat saya gemes. ya gemes. gemes dengan comment yang ber-ratus-ratus jumlahnya, gemes dengan tangapan menyepelekan, gemes dengan saya sendiri.

yang bikin saya bingung adalah, saya ini salah tanya, atau salah bertanya pada group yang salah? lantas, fungsi group untuk apa kalau bertanya saja sulit. tapi hikmah dari itu semua adalah saya menjadi bisa. bisa untuk mandiri menyelesaikan masalah satu persatu, mandiri untuk belajar secara mandiri. mandiri untuk tertidur dengan berjibun rasa penasaran yang mengganjal atas proses pembuatan proxy yang selalu gagal itu sendiri.

lantas, saat ini bagaimana wik? apakah proxy sudah jadi? | alhamdulillah sudah, dan semua yang saya kerjakan, insyaAllah malah bisa diterapkan ditempat lain, karena apa? ya karena saya paham betul. wong digarap sendiri tanpa bantuan yang jelas. jadi semua ilmu nyantol dikepala, *eh

ini seperti psikologi terbalik, karena budaya yang ada di saya selama ini adalah ketika bertanya, lantas dapat jawaban. lantas dikerjakan, lantas selesai. that’s all. insyaAllah besok kalo ketemu kasus, ya lupa.hehe.. mereka memang punya maksud baik, mungkin. agar saya bisa belajar. terimakasih yang sebesar-besar nya untuk pengalaman ini, terimakasih untuk para master-master jaringan di group tersebut.

apapun itu, saya lantas berfikir tentang mereka. meskipun akhirnya pergulatan di group tersebut berakhir dengan perang comment, saling menghardik satu sama lain. saya di kepung oleh mereka yang sudah saling kenal. saya tergelitik ketika berdiskusi dengan isteri atas apa yang saya alami,

saya  : kenapa ya mereka ndak mau ngasih tau
isteri : ya mungkin karena diantara group itu ada yang menjual jasa setting proxy.
saya  : lah? emang kenapa?
isteri : ya kalau kamu bertanya sama penjual jasa, otomatis ketika dijawab, sama hal nya mereka menjual jasa secara gratis.
saya  : eh* gitu ya?
isteri : ya coba kamu telpon dokter, tanya minta resep obat atas masalah kesehatan yang kamu alami, ya mungkin ndak bakalan dijawab kalau lewat telpon apa facebook, ya harus datang kesana, paling ga mbayar dulu.
saya  : *manggut-manggut*

apapun itu, kesan saya adalah tentang bagaimana sebuah ilmu disikapi oleh pemiliknya.

kalau ilmu adalah harta mereka, sudah pasti mereka menggenggam nya. jangan sampai terbuang ditempat yang salah. kalau ilmu adalah makanan mereka, sudah pasti mereka membagi-bagikannya, karena ilmu tidak akan pernah cukup hanya untuk dimakan sendiri. maka sudahilah, carilah orang-orang yang berkarakter nomer 2.

dan saya tetap menghormati orang nomer satu, sebisa mungkin.

 

Hey, putriku

October 14th, 2011 § 4 Comments

alhamdulillah, satu hal yang paling membuat hidup saya lebih bersemangat belakangan ini adalah ketika melihat tumbuh kembangnya putri pertama saya, usianya kini 6 bulan lebih 8 hari. sudah sekian bulan, sudah banyak kenangan yang tak ingin saya lupakan hingga hari ini saya menulis blog. senyum putri saya manis sekali, semanis wajahnya. alhamdulillah.

entah, saya hanya merasakan kebahagiaan sebagai seorang ayah sejauh ini. bahkan ketika saya menulis ini, rasanya malah sulit konsentrasi, pikiran saya tertuju pada putri saya. oke. guys. happy blogwalking.

 

nb: bagi yang belum menikah, disegerakan ya.. :cheers:

Hey, Hijab

October 6th, 2011 § 4 Comments

saya punya perandaian yang lucu tentang sebuah kerudung:hijab:jilbab:kainpenutup, analoginya begini (meskipun sudah sangat umum), ketika hendak membeli makanan pasti pembeli memilih makanan yang telah terbungkus plastik, bukan makanan yang dibiarkan terbuka dan terkena udara seharian. pun memilih pakaian, pasti pembeli memilih pakaian yang masih plastik-an, bukan pakaian yang di-display di rak-rak toko. begitu juga ketika wanita yang “ditutupi” jauh lebih memiliki “nilai” lebih ketimbang yang “terbuka”.

analogi diatas rasanya cukup hambar ketika dilontarkan pada wanita-wanita yang “cerdas”, mengapa cerdas? karena banyak alibi yang mereka miliki untuk menepis hal tersebut, rasa tidak terima kalau disamakan dengan sebuah barang, atau bagi mereka kata “bungkus” bukan menjadi sebuah kriteria untuk memberikan “nilai lebih” kepada mereka, apapun lah. mereka sungguh sangat cerdas dengan pemikiran mereka masing-masing.

dan saya pribadi sangat menghargai perbedaan tersebut, para kaum hawa diciptakan dengan karakter mereka masing-masing, ada yang memang mendapatkan hidayah untuk mengenakan kain penutup, ada yang belum, bahkan ada yang mendapat hidayah untuk tidak menggunakannya (lhoh?). tapi bagi saya pribadi, saya lebih menyukai para wanita yang memilih untuk bersanding dengan kain penutup auratnya.

kain penutup aurat bagi saya bukanlah sebuah paksaan, ajakan, atau bahkan rayuan. karena kain tersebut datangnya langsung dari langit, bukan dari tangan-tangan manusia. perintah mengenakannya pun sudah jelas di tuliskan pada sebuah kitab, bukan pada sebuah artikel dan opini seseorang. sehingga cara termudah untuk mewujudkan gerakan sadar aurat adalah dengan cara membiarkan perintah dari langit itu turun sendiri kepada wanita-wanita “cerdas” yang saya maksudkan di atas tanpa campur tangan para manusia disekitarnya.

saya pribadi kebetulan memiliki cara pandang yang berbeda terhadap para perempuan “sadar aurat” dan perempuan “cerdas”, mereka semua memiliki kekurangan dan kelebihan nya masing-masing, sehingga ketika saya kebetulan sedang berhadapan dengan kedua karakter perempuan/wanita yang berbeda tersebut, pun saya memiliki sikap yang berbeda-beda dibuatnya. terkadang saya terkagum sekagum kagum nya dengan perempuan-perempuan “sadar aurat”, dan sering kali saya terpesona sepesona pesona nya dengan perempuan-perempuan “cerdas”. kata kagum dan pesona memiliki makna yang berbeda pula, anda pasti sudah bisa mengartikan perbedaan makna kata diatas.

satu hal yang paling menohok diri saya pribadi sebagai seorang penilai terhadap kedua karakter perempuan diatas adalah: ketika kesempatan untuk dapat memiliki dua rasa yang sama-sama luar biasa-nya itu tidak dapat saya rasakan, karena perempuan “sadar aurat” bisa memberikan rasa kagum terhadap suaminya saat diluar rumah, dan bisa memberikan pesonanya khusus hanya untuk sang suami ketika mereka sedang dirumah. namun perempuan “cerdas” hanya bisa memberikan pesonanya saja, baik di luar atau di dalam rumah. atau yang lebih parah adalah pesona itu bisa jadi diobral habis-habis-an kepada lelaki lain yang bukan suaminya ketika di luar rumah. huallahualam bishowab.

saya tergelitik ketika mencoba memahami cara pandang perempuan “cerdas”, kain penutup bagi mereka bisa dianggap sebagai penutup semua peluang di dunia mereka. kalau mereka seorang wanita karir, bisa jadi kain penutup menjadi pengurang daya tarik mereka kepada atasan-atasannya. kalau mereka seorang wanita sosial, bisa jadi kain penutup menjadi tembok penghalang mereka untuk bisa bergaul dengan komunitas plural. kalau mereka seorang non-agamis, bisa jadi kain penutup menjadi lambang kepalsuan dihidup mereka. ada-ada saja pemikiran asal-asal-an di dalam benak saya. meskipun pemikiran saya mungkin ada benarnya juga. haha..

apapun itu, kain penutup memiliki unsur keindahan tersendiri. seperti hal nya ketika seorang lelaki seperti saya yang mampu larut dan tenggelam dalam keteduhan hijab. tidak aneh bila saya terkadang diam termenung tanpa sadar memperhatikan perempuan-perempuan sadar aurat. entah, mungkin itu juga hidayah yang saya miliki untuk bisa menghormati para hijabers, seperti hal nya saya menghormati para non-hijabers.

wanita adalah perhiasan, dan sebaik-baik nya perhiasan dunia adalah wanita berhijab. kalau anda mau tau seperti apa kira-kira penampilan perempuan “sadar aurat”, saya sangat bersedia menampilkan contoh gambar demi gambar yang saya ambil dari pencarian kata kunci “hijabers” di google.com

terlepas dari sisi keimanan mereka, saya tidak akan menilai. karena saya sebagai manusia tidak berkompeten untuk menilai keimanan seseorang baik dari segi penampilan, perkataan, bahkan kehidupan mereka. yang saya tau mereka-mereka ini pasti “belajar” untuk memperlakukan suaminya kelak untuk dapat merasakan “kekaguman” dan “pesona” dari seorang wanita, dua rasa dari satu isteri.

hijabers1

wow

woow

woow

wooow

wooow

woooow

woooow

Hey, hopeless

September 9th, 2011 § 4 Comments

Judul yang terkesan ironi dengan moment kelulusan studi ku, yup saya sudah pada level hopeless terhadap kelakuan rekanan bisnis saya, bertahun tahun menjalin kerja sama, namun bukannya malah semakin baik tapi malah semakin buruk, tapi saya punya etika untuk tidak menyebutkan nama dari perusahaan penyedia bandwidth itu.

Mungkin memang tidak disarankan menaruh harapan terhadap perusahaan itu, tapi saya sudah terlanjur, ekspektasi saya terlalu berlebihan terhadap kemajuan perusahaan itu.

Memang kalau dilihat dari cara mereka menyediakan layanan koneksi Internet beberapa bulan terakhir ini, kayaknya perusahaan itu ndak bakalan bisa maju.

Sekedar informasi saja, hikmah yang saya dapat dari kejadian yang menimpa saya kurang lebih 4 bulanan ini adalah bahwa kesabaran adalah kunci kebahagiaan.

Semoga Allah mengampuniku dari sikap kasar saat uring2an menghadapi para helpdesk. dan saat ini koneksi sedang buruk, saya memilih untuk berhenti komplain, karena disamping menguras emosi, nambah dosa ( karena marah2), dan malah menjadikan masalah makin runyam.

bagaimanapun ketika komplain saya menuai kementokan, para helpdesk akan melemparkan komplain saya ke “one man show”.

Ya sudahlah, kalau saya dimintai saran untuk memilihkan daftar isp yang baik yang ada dijogja, saya tidak akan memasukan perusahaan itu dalam daftar saya.

Ada yang punya info isp yang baik yang ada di jogja?

Best regards,

Awik

Hey, iOS

July 16th, 2011 § 4 Comments

Wow, sekian lamanya menunggu akhirnya bisa ngicip iOS meskipun masih rada kikuk nggunainnya.. Semoga inspirasi seketika mungkin terekam dalam genggaman. Dan emosi tertulis dalam baris demi baris.. Yup selamat datang teknologi saya ucapkan. God bless steve jobs

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers