Hey, 2011 in review

January 12th, 2012 § Leave a Comment

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 29,000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 11 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Hey, Jangan Bertanya

November 30th, 2011 § Leave a Comment

wow.. kenapa ga boleh bertanya?
seminggu terakhir ini ada hal yang selalu membuat saya gemes setiap kali membuka facebook, entah bagaimana ceritanya hingga saya bisa masuk kesebuah group di facebook. group ini kalau saya lihat anggotanya, isi nya adalah orang-orang yang mahir dalam dunia jaringan. awal kali saya melihat baris pertama group discussion disitu terbaca hal-hal seputar pertanyaan tentang dunia jaringan. WAH! kesan pertama yang muncul adalah perasaan senang karena suatu saat ketika saya berhadapan masalah dengan ilmu jaringan, saya bisa menanyakan langsung disitu, ekspektasi saya ternyata terlalu muluk ketika sebuah cerita dimulai :

awalnya saya hendak merancang dan mengimplentasikan sebuah PC PROXY,  di jaringan RT RW net yang saya kelola. yup. apa itu PROXY? anda bisa baca lengkap di sini.  alhasil wajar dong ya kalau saya memposting pertanyaan disana, saya tidak ingin terlalu subyektif merangkum diskusi yang ada hingga sampai pada kesimpulan yang membuat saya gemes. ya gemes. gemes dengan comment yang ber-ratus-ratus jumlahnya, gemes dengan tangapan menyepelekan, gemes dengan saya sendiri.

yang bikin saya bingung adalah, saya ini salah tanya, atau salah bertanya pada group yang salah? lantas, fungsi group untuk apa kalau bertanya saja sulit. tapi hikmah dari itu semua adalah saya menjadi bisa. bisa untuk mandiri menyelesaikan masalah satu persatu, mandiri untuk belajar secara mandiri. mandiri untuk tertidur dengan berjibun rasa penasaran yang mengganjal atas proses pembuatan proxy yang selalu gagal itu sendiri.

lantas, saat ini bagaimana wik? apakah proxy sudah jadi? | alhamdulillah sudah, dan semua yang saya kerjakan, insyaAllah malah bisa diterapkan ditempat lain, karena apa? ya karena saya paham betul. wong digarap sendiri tanpa bantuan yang jelas. jadi semua ilmu nyantol dikepala, *eh

ini seperti psikologi terbalik, karena budaya yang ada di saya selama ini adalah ketika bertanya, lantas dapat jawaban. lantas dikerjakan, lantas selesai. that’s all. insyaAllah besok kalo ketemu kasus, ya lupa.hehe.. mereka memang punya maksud baik, mungkin. agar saya bisa belajar. terimakasih yang sebesar-besar nya untuk pengalaman ini, terimakasih untuk para master-master jaringan di group tersebut.

apapun itu, saya lantas berfikir tentang mereka. meskipun akhirnya pergulatan di group tersebut berakhir dengan perang comment, saling menghardik satu sama lain. saya di kepung oleh mereka yang sudah saling kenal. saya tergelitik ketika berdiskusi dengan isteri atas apa yang saya alami,

saya  : kenapa ya mereka ndak mau ngasih tau
isteri : ya mungkin karena diantara group itu ada yang menjual jasa setting proxy.
saya  : lah? emang kenapa?
isteri : ya kalau kamu bertanya sama penjual jasa, otomatis ketika dijawab, sama hal nya mereka menjual jasa secara gratis.
saya  : eh* gitu ya?
isteri : ya coba kamu telpon dokter, tanya minta resep obat atas masalah kesehatan yang kamu alami, ya mungkin ndak bakalan dijawab kalau lewat telpon apa facebook, ya harus datang kesana, paling ga mbayar dulu.
saya  : *manggut-manggut*

apapun itu, kesan saya adalah tentang bagaimana sebuah ilmu disikapi oleh pemiliknya.

kalau ilmu adalah harta mereka, sudah pasti mereka menggenggam nya. jangan sampai terbuang ditempat yang salah. kalau ilmu adalah makanan mereka, sudah pasti mereka membagi-bagikannya, karena ilmu tidak akan pernah cukup hanya untuk dimakan sendiri. maka sudahilah, carilah orang-orang yang berkarakter nomer 2.

dan saya tetap menghormati orang nomer satu, sebisa mungkin.

 

Hey, putriku

October 14th, 2011 § 4 Comments

alhamdulillah, satu hal yang paling membuat hidup saya lebih bersemangat belakangan ini adalah ketika melihat tumbuh kembangnya putri pertama saya, usianya kini 6 bulan lebih 8 hari. sudah sekian bulan, sudah banyak kenangan yang tak ingin saya lupakan hingga hari ini saya menulis blog. senyum putri saya manis sekali, semanis wajahnya. alhamdulillah.

entah, saya hanya merasakan kebahagiaan sebagai seorang ayah sejauh ini. bahkan ketika saya menulis ini, rasanya malah sulit konsentrasi, pikiran saya tertuju pada putri saya. oke. guys. happy blogwalking.

 

nb: bagi yang belum menikah, disegerakan ya.. :cheers:

Hey, Hijab

October 6th, 2011 § 4 Comments

saya punya perandaian yang lucu tentang sebuah kerudung:hijab:jilbab:kainpenutup, analoginya begini (meskipun sudah sangat umum), ketika hendak membeli makanan pasti pembeli memilih makanan yang telah terbungkus plastik, bukan makanan yang dibiarkan terbuka dan terkena udara seharian. pun memilih pakaian, pasti pembeli memilih pakaian yang masih plastik-an, bukan pakaian yang di-display di rak-rak toko. begitu juga ketika wanita yang “ditutupi” jauh lebih memiliki “nilai” lebih ketimbang yang “terbuka”.

analogi diatas rasanya cukup hambar ketika dilontarkan pada wanita-wanita yang “cerdas”, mengapa cerdas? karena banyak alibi yang mereka miliki untuk menepis hal tersebut, rasa tidak terima kalau disamakan dengan sebuah barang, atau bagi mereka kata “bungkus” bukan menjadi sebuah kriteria untuk memberikan “nilai lebih” kepada mereka, apapun lah. mereka sungguh sangat cerdas dengan pemikiran mereka masing-masing.

dan saya pribadi sangat menghargai perbedaan tersebut, para kaum hawa diciptakan dengan karakter mereka masing-masing, ada yang memang mendapatkan hidayah untuk mengenakan kain penutup, ada yang belum, bahkan ada yang mendapat hidayah untuk tidak menggunakannya (lhoh?). tapi bagi saya pribadi, saya lebih menyukai para wanita yang memilih untuk bersanding dengan kain penutup auratnya.

kain penutup aurat bagi saya bukanlah sebuah paksaan, ajakan, atau bahkan rayuan. karena kain tersebut datangnya langsung dari langit, bukan dari tangan-tangan manusia. perintah mengenakannya pun sudah jelas di tuliskan pada sebuah kitab, bukan pada sebuah artikel dan opini seseorang. sehingga cara termudah untuk mewujudkan gerakan sadar aurat adalah dengan cara membiarkan perintah dari langit itu turun sendiri kepada wanita-wanita “cerdas” yang saya maksudkan di atas tanpa campur tangan para manusia disekitarnya.

saya pribadi kebetulan memiliki cara pandang yang berbeda terhadap para perempuan “sadar aurat” dan perempuan “cerdas”, mereka semua memiliki kekurangan dan kelebihan nya masing-masing, sehingga ketika saya kebetulan sedang berhadapan dengan kedua karakter perempuan/wanita yang berbeda tersebut, pun saya memiliki sikap yang berbeda-beda dibuatnya. terkadang saya terkagum sekagum kagum nya dengan perempuan-perempuan “sadar aurat”, dan sering kali saya terpesona sepesona pesona nya dengan perempuan-perempuan “cerdas”. kata kagum dan pesona memiliki makna yang berbeda pula, anda pasti sudah bisa mengartikan perbedaan makna kata diatas.

satu hal yang paling menohok diri saya pribadi sebagai seorang penilai terhadap kedua karakter perempuan diatas adalah: ketika kesempatan untuk dapat memiliki dua rasa yang sama-sama luar biasa-nya itu tidak dapat saya rasakan, karena perempuan “sadar aurat” bisa memberikan rasa kagum terhadap suaminya saat diluar rumah, dan bisa memberikan pesonanya khusus hanya untuk sang suami ketika mereka sedang dirumah. namun perempuan “cerdas” hanya bisa memberikan pesonanya saja, baik di luar atau di dalam rumah. atau yang lebih parah adalah pesona itu bisa jadi diobral habis-habis-an kepada lelaki lain yang bukan suaminya ketika di luar rumah. huallahualam bishowab.

saya tergelitik ketika mencoba memahami cara pandang perempuan “cerdas”, kain penutup bagi mereka bisa dianggap sebagai penutup semua peluang di dunia mereka. kalau mereka seorang wanita karir, bisa jadi kain penutup menjadi pengurang daya tarik mereka kepada atasan-atasannya. kalau mereka seorang wanita sosial, bisa jadi kain penutup menjadi tembok penghalang mereka untuk bisa bergaul dengan komunitas plural. kalau mereka seorang non-agamis, bisa jadi kain penutup menjadi lambang kepalsuan dihidup mereka. ada-ada saja pemikiran asal-asal-an di dalam benak saya. meskipun pemikiran saya mungkin ada benarnya juga. haha..

apapun itu, kain penutup memiliki unsur keindahan tersendiri. seperti hal nya ketika seorang lelaki seperti saya yang mampu larut dan tenggelam dalam keteduhan hijab. tidak aneh bila saya terkadang diam termenung tanpa sadar memperhatikan perempuan-perempuan sadar aurat. entah, mungkin itu juga hidayah yang saya miliki untuk bisa menghormati para hijabers, seperti hal nya saya menghormati para non-hijabers.

wanita adalah perhiasan, dan sebaik-baik nya perhiasan dunia adalah wanita berhijab. kalau anda mau tau seperti apa kira-kira penampilan perempuan “sadar aurat”, saya sangat bersedia menampilkan contoh gambar demi gambar yang saya ambil dari pencarian kata kunci “hijabers” di google.com

terlepas dari sisi keimanan mereka, saya tidak akan menilai. karena saya sebagai manusia tidak berkompeten untuk menilai keimanan seseorang baik dari segi penampilan, perkataan, bahkan kehidupan mereka. yang saya tau mereka-mereka ini pasti “belajar” untuk memperlakukan suaminya kelak untuk dapat merasakan “kekaguman” dan “pesona” dari seorang wanita, dua rasa dari satu isteri.

hijabers1

wow

woow

woow

wooow

wooow

woooow

woooow

Hey, hopeless

September 9th, 2011 § 4 Comments

Judul yang terkesan ironi dengan moment kelulusan studi ku, yup saya sudah pada level hopeless terhadap kelakuan rekanan bisnis saya, bertahun tahun menjalin kerja sama, namun bukannya malah semakin baik tapi malah semakin buruk, tapi saya punya etika untuk tidak menyebutkan nama dari perusahaan penyedia bandwidth itu.

Mungkin memang tidak disarankan menaruh harapan terhadap perusahaan itu, tapi saya sudah terlanjur, ekspektasi saya terlalu berlebihan terhadap kemajuan perusahaan itu.

Memang kalau dilihat dari cara mereka menyediakan layanan koneksi Internet beberapa bulan terakhir ini, kayaknya perusahaan itu ndak bakalan bisa maju.

Sekedar informasi saja, hikmah yang saya dapat dari kejadian yang menimpa saya kurang lebih 4 bulanan ini adalah bahwa kesabaran adalah kunci kebahagiaan.

Semoga Allah mengampuniku dari sikap kasar saat uring2an menghadapi para helpdesk. dan saat ini koneksi sedang buruk, saya memilih untuk berhenti komplain, karena disamping menguras emosi, nambah dosa ( karena marah2), dan malah menjadikan masalah makin runyam.

bagaimanapun ketika komplain saya menuai kementokan, para helpdesk akan melemparkan komplain saya ke “one man show”.

Ya sudahlah, kalau saya dimintai saran untuk memilihkan daftar isp yang baik yang ada dijogja, saya tidak akan memasukan perusahaan itu dalam daftar saya.

Ada yang punya info isp yang baik yang ada di jogja?

Best regards,

Awik

Hey, iOS

July 16th, 2011 § 4 Comments

Wow, sekian lamanya menunggu akhirnya bisa ngicip iOS meskipun masih rada kikuk nggunainnya.. Semoga inspirasi seketika mungkin terekam dalam genggaman. Dan emosi tertulis dalam baris demi baris.. Yup selamat datang teknologi saya ucapkan. God bless steve jobs

Hey, kotoran

June 7th, 2011 § 7 Comments

siapa yang ga marah kalau dirinya dianggap kotoran? sudah pasti kotoran adalah sesuatu yang dibuang, tidak dihargai. its okey. anda pasti paham dimana lokasi kotoran seharusnya berada.. yup. ditempat yang sangat bau, dan orang-orang pasti akan menjauhi tempat pembuangan itu.

saya tergelitik ketika mengamati cara pandang seseorang yang tidak menghargai diri kita, dan bila terus menerus terjadi, bukan tidak mungkin psikologi kita akan merasa menjadi yang terbuang. sebenarnya tidak ada yang salah pada keadaan itu, toh itu hak mereka menganggap kita ini apa? yang salah adalah mengapa kita harus terus menerus menerima cara pandang mereka terhadap diri kita.

saya memiliki beberapa kasus seperti ini, namun tidak terjadi pada saya lho ya. kadang saya merasa cukup kasian melihat keadaan yang bersangkutan karena merasa terus direndahkan seperti itu. dan efeknya? binggo! dari hari kehari mereka semakin terpuruk seperti kotoran, yup. bahkan terlihat dari cara dia memperlakukan tubuhnya, sudah kotor secara harfiah (ketombe, upil, gadul, belek, kopok, daki, keringat, dangkal, dll), ditambah dengan tekanan yang menghakimi dirinya bahwa : dia adalah yang terbuang, dan ditambah pula dengan pikiran-pikirannya yang semakin kotor.

wah, ternyata berat juga ya efek domino dari ucapan seseorang. baiklah, mari kita cari solusi untuk masalah diatas. yup, tutup telinga dan jangan dengarkan perkataan orang yang menganggap kita ini kotoran (baca – tidak dihargai). sudahlah, maka  merenunglah sejenak tentang kopi luwak.

anda pasti tahu kopi luwak, kopi tersebut terbuat dari biji kopi yang dimakan luwak yang kemudian terbuang bersama kotorannya, itupun karena tidak terurai oleh lambung si luwak. luar biasa bukan? anda pasti akan kembali menertawakan hal ini bila harga secangkir kopi luwak adalah 500 ribu rupiah.

mungkin sampai hari ini tidak akan pernah ada orang yang rela merogoh kocek sampai begitu dalam hanya untuk secangkir kopi luwak, jika tidak ada orang yang menemukan biji kopi dari tumpukan kotoran luwak-luwak tersebut.

sama seperti diri anda, tidak akan pernah ada yang menghargai diri anda apabila anda sendiri tidak menemukan hal yang paling berharga dalam hidup anda.

semua boleh berkata apapun tentang kotoran luwak, hanya orang gila saja yang berani menemukan dan meminum kopi yang terbuat dari setumpuk kotoran.

semua boleh  berkata apapun tentang diri anda, termasuk masukan, kritikan, saran, cemoohan, dan sebagainya. namun hanya diri anda (baca tidak gila) sendirilah yang seharusnya berani menemukan hal-hal terbaik yang terpendam dalam diri anda.

solusinya? lupakan semua perkataan buruk tentang diri anda. bergegaslah membuat kopi, dan menikmatinya bersama keluarga kecil yang anda cintai.

selamat beraktivitas.

semoga Allah mengampuni tiap kesalahan demi kesalahan para manusia yang selalu merendahkan kita.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.