Hey, Mukhlas

dimas sakit

dimas sakit

yup, dimas adalah kakak saya. ini cerita diangkat karena mas dimas sedang mondok di pantirapih. padahal 13 agustus dia harus nyampe ke norwegia buat kuliah s2. agak kaget waktu pertama kali denger dimas mondok di rumah sakit. bingung karena aku sedang di jakarta, dan dimas sedang di jogja. waktu annisa tanya kenapa aku begitu resah. aku hanya menjawab

dia itu seperti my tween, meski muka beda tapi ikatan batin kita seperti anak kembar, sejak kecil aku selalu bareng sama mas dimas, bobo bareng, sekolah bareng, kemana-mana bareng, kadang aku diceramahi, kadang dia aku ceramahi, karena sampai gede seperti sekarang ini pun kamar kami dibuat bersebelahan, dan antara kamar kami itu ada (balkon besar) rongga udara yang menghubungkan kamar kami. lalu kadang menutup kegelisahan malam dengan berbagi cerita dari kamar kami masing masing. meski tidak melihat wajah, namun karena heningnya malam, jadi kami seolah berada disatu ruangan yang sama.

mengapa aku memilih mengajar ketimbang menjadi pekerja kantoran karena banyak motivasinya dan setulusnya saya ingin seperti dia, yup.. seperti alm. ayah saya juga.

back to cerita. tau ga, orang yang pertama aku kontak adalah clara! yup. clara. siapa dia? tanyakan sendiri ke mas dimas ya. hahaha..

okey, aku bagi dikit tentang clara, dia itu temennya mas dimas, bisa dikatakan lebih dari seorang temen. dimas memang memiliki sejarah tidak awet dalam membina hubungan dengan temen (deket n cewe) nya. entah karena apa. tapi semoga untuk kali ini dimas dan clara awet dan bisa menyusul seperti aku dan nisa. okey.. kenapa bisa begitu? keyakinan aja. ketika clara kerumah (hampir setiap hari) suasana rumah menjadi damai, mungkin damai itu terpancar dari hati dimas yang meluap-luap.

satu hal lagi, ada temennya aim (ponakanku yang lucu). dia punya “temen”. dan ketika temen itu datang kerumah (setiap hari juga) tiba-tiba rumah menjadi damai sekali. mungkin pacaran kedamaian di hati aim..

aim

aim

alhamdulillah, memiliki clara dan “temennya aim” dalam bagian keluarga ini. semoga mereka dapat segera menyusul aku dan annisa. semoga menjadi keluarga yang memancarkan kedamaian. aku dan annisa mendoakan yang terbaik untuk clara dan “temennya aim”. tak sabar rasanya ketika kita bisa menjadi satu keluarga besar yang utuh dan saling merangkul ketika masing masing dari kita jatuh.

photo by bimaadhitya

photo by bimaadhitya

terimakasih (alm) ayah, terimakasih ibu. atas semua yang engkau contohkan dan ajarkan pada kami. tentang bahwa masih ada cinta dalam dunia ini.

mau tau siapa clara dan siapa “temennya aim”? biar waktu yang akan menjawab.

photo by bimaadhitya

photo by bimaadhitya

Hey, Menikah.

alhamdulillah.. 02-juli-2010 telah menikah awik dan annisa.

qobiltu nikahaha watajwijaha linafsi bilmahril madzkur..

sebelum dan sesudah aku mengucapkan itu untuk sekali dalam hidupku-lah air mata ini tak mampu kubendung, semuanya turun secara rapi, se-rapi niat yang telah aku jaga bersama istriku hingga hari itu tiba. alhamdulillah semua berjalan sesuai dengan niat ini. kita hanya ingin menikah untuk sebuah tujuan yang mulia. yak, Ibadah! nothing else.

bahkan dibalik undangan kami, aku sisipkan sms yang keluar sepintas tanpa berfikir keras saat setahun sebelumnya annisa menanyakan “apa makna menikah menurutmu awik?”. Dan aku menjawab,

“menikah adalah meminjamkan sayapku kepadamu, dan kemudian memintamu untuk merangkulku. karena aku tak mungkin terbang sendiri dengan satu sayap. terbang menuju jannah (ridho-red) yang sama..”

Sore hari setelah resepsi, annisa aku ajak kejogja bersama satu mobil dengan dimas, clara, aim, dan ibu.  Setelah 2 hari dijogja, aku langsung berangkat ke jakarta menemani annisa yang harus masuk kerja hari rabu nya. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk berbulan madu di jakarta, sambil menunggu waktu weekend yang tepat yang mungkin akan kami manfaatkan bersama.

Masih ada haru yang tertinggal mengingat kami berdua adalah sama sama seorang yatim. Namun kami yakin, bapak dan papa melihat prosesi agung itu. Kami juga takjub dengan kemurahan hati sahabat-sahabat mereka datang di acara yang syahdu itu. Ada Prof. Maksum, Prof. Susetiawan, Prof. Sigid Supadmo, Prof. Nono, dan (calon) Prof. Mahmudun beserta keluarga. Mereka menyempatkan datang disela-sela waktu sibuk mereka, tak ayal bila setelah ijab mereka langsung kembali ke kota mereka masing masing.

bagi kami berdua, pernikahan ini lengkap dengan berjuta-juta cinta yang hadir di acara itu, karena kami merasakan dengan jelas bukan hanya kami yang berbahagia. semua berbahagia,

mama, yang seorang single fighter mampu menyusun semua acara dengan sangat rapi meski anak dan menantunya tidak berada di sampingnya (surabaya). annisa yang harus prajab di jakarta, dan aku yang masih harus ngajar dan kuliah di jogja. mama yang akhirnya bisa berleha-leha setelah sekian bulan mempersiapkannya. mama bahagia semua berjalan dengan baik.

ibu, yang berbahagia karena putra kesayangannya berkeinginan untuk mentransformasikan dirinya dari seorang bocah menjadi pribadi yang lebih dewasa.

adit dan dimas

photo by bimaadhitya

kakak adit, yang berbahagia terlihat dari wajahnya yang tercengang seperti dikembalikan pada masa dimana dia pernah melalui prosesi ini, mungkin menurut hati kecil kami berdua, adit kembali menemukan “niat” dalam membangun keluarga kecilnya. dan semua saat yang sulit telah ia lalui dengan sangat bijak. kini ia berkesempatan untuk membuka lebar mata hatinya, karena pilihan didepannya mudah untuk ia jalani, dan keluarga sudah merestui sejauh ini. ada apa dengan adit? tanyakan saja sendiri ya. hihihi.

kakak dimas dan wildan, kakak kami yang dengan ikhlas merelakan kesempatan menikah lebih dulu kepada kami berdua, mungkin bagi kebanyakan orang, jarang ada kakak yang merelakan adiknya untuk menikah terlebih dahulu. tapi di keluarga kami, dimas dan wildan dengan sangat mantap merestui cita-cita kami berdua. mereka datang dengan pasangan mereka masing-masing.. sesungguhnya ketika mereka merelakan kesempatan mereka untuk dipergunakan oleh adik-adiknya maka mereka semakin mendapatkan balasan yang melimpah, karena mereka membantu niat ibadah yang suci ini. beribu doa kami panjatkan di tiap-tiap usai sholat kami terutama untuk kakak kami yang sangat baik itu. semoga Allah membalas keikhalasan kalian.

adik mita, dia dinyatakan lulus pada hari itu. menjadi seorang sarjana! meski tak sempat melihat prosesi, karena harus mengikuti pendadaran di kampus unair. kebahagian dihari itu semakin meluap-luap.

subhanallah.

keluarga kami, yang terpisah-pisah di seluruh pelosok indonesia berkumpul dan bertemu untuk saling melepas rindu, cinta itu hangat. sehangat tiap pelukan yang jatuh bersama ucapan selamat kepada kami.

Ada sebuah kehangatan saat memeluk mereka erat sesaat setelah ijab itu dianggap sah oleh semua keluarga yang duduk menyaksikan kami berdua menikah. Anggap saja tangis haru itu adalah awalan yang baik untuk sebuah fondasi keluarga kecil ini. Terimakasih Ayah, terimakasih Papa.

-dan dulu kami hanya seorang anak kecil yang sering menangis meminta dibelikan mainan yang membuat kami tidak bisa tidur karenanya, dan kini kami tumbuh menjadi seorang yang jauh lebih tua, masih saja menangis meminta dinikahkan, tapi bukan lagi meminta kepada orangtua kami, tapi kami menangis meminta barokah kepada tuhan kami. karena kami tahu tuhan kami baik, pemurah lagi penyanyang.-

masih saja menangis

masih saja menangis (by massageng widagdha p)

annisa

annisa (by massageng widagdha p)

foto lain bisa dilihat di sini

awik dan nisa by bimaadhitya photography
awik dan nisa by massageng widagdha p

Hey, Darmadi itu babe aye

yup! saya sedang kangen berat dengan babe aye. iseng-iseng aja buat seharian ini aye pake pakaian yang sering beliau pake. termasuk jaket kesayangannya yang berwarna biru pupus itu.

sepintas setelah saya mengenakan jaket tersebut, komentar saya adalah : saya merasa sangat nyaman dengannya!. meski dari luar terlihat kucel dan kumel namun ternyata kain didalam jaket tersebut memberikan rasa dingin dan nyaman meski dikenakan dibawah panasnya terik matahari. seketika dalam benak saya muncul-lah kata-kata “oh ini toh, hidup cara nyaman ala babe”.

beliau emang saya akui selama hidupnya berada pada posisi yang nyaman. entah itu dilihat dari sudut pandang apapun, meskipun kadang beliau terlihat keras dalam menapaki hidupnya, toh saya masih saja terus terkelabui oleh rasa nyaman yang ternyata tersemat didalamnya. hal ini terlepas dari pemilihan salah satu jaket kesayangannya tersebut.

seketika wajah saya menjadi merah padam, saya malu sekali dengan kenyamanan yang bertolak belakang dengan penampakannya. yup! you know what? JOGJA!

benar bila dibandingkan dengan kota industrial lainnya yang bersematkan gedung-gedung pencakar langitnya, pabrik-pabrik nya yang terbentang ratusan hektar diatasnya, atau gemerlap kehidupan nya yang dinamis. jogja kalah hebat dibandingkan dengan kota-kota tersebut dalam kacamata industri.

seperti yang (alm) babe aye pilih, sebuah kota yang tersematkan rasa “nyaman” didalamnya, terlihat tidak ada apa-apa nya bila dibandingkan dengan kota-kota besar yang ada di dunia ini. dan baginya mungkin itu sudah menjadi pilihan hidupnya.

terlepas dari pilihan saya akan menyerupai pilihan beliau atau tidak, dalam hal membangun sebuah keluarga dan akhirnya menetap di sebuah kota tertentu (yang sampai hari ini saya sendiri masih belum tahu akan kemana). namun faktanya, calon istri saya yang asli surabaya kini sudah bekerja di jakarta, dan paling tidak nantinya saya perlu mengedepankan rasa nyaman untuk memilih sebuah tempat tinggal kami kelak.

itupun kalau ada aksi diskusi antara saya dengan calon saya

sekedar ingin berbagi, inilah wanita terindah dalam perjalanan 26 th hidup saya. so, kami berdua akan menikah bulan juli ini lho. mohon doa restunya ya..

arief ikhwan annisa indah
arief – annisa

Hey, awik

hidupku bukan tentang hidupmu, kenapa kamu begitu serius memikirkan cara aku menghadapi hidupku?

that’s all.

Hey, kamasutra

judul yang sangat menarik bukan? kejadian yang menimpa saya pun tak kalah menariknya untuk di ceritakan di sini. kejadian itu bukannya bikin mata  saya merem melek, tapi malah menjadikan hari itu sungguh membuat saya malu ga karu karuan. satu kata, Memalukan! wkwkwk.. Continue reading