Guys,

 

Semestinya harus seperti apa aku menulis secara adil, tidak berpihak pada seseorang dan tidak memihak pada diriku sendiri.. Namun aku akan tetap menulis, karena akan ada hasil dari apa yang kita telah lakukan. Perkenalkan, kami adalah para lelaki yang secara tidak sengaja bertemu disaat kami membutuhkan uluran tangan seorang sahabat, sisi anehnya kita tidak tahu kapan persisnya saat ikrar itu terucap, waktu dimana kita berempat menyatakan untuk menjaga tali persahabatan ini hingga usia senja itu tiba.

Berdiri diujung tombak pernah kita rasakan, terpaku di lorong lorong tikus juga pernah kita alami. Kita pernah merasa seperti raja, dan kita pernah merasa seperti penghuni neraka. Tapi setelah itu kita mulai belajar dan menjadi tahu, mana yang baik dan mana yang buruk. Seperti apa yang harus dijaga dan seperti apa yang harus dibiarkan untuk selamanya tak akan terjamah lagi.

Aku bermaksud untuk tidak membuat persahabatan ini hancur karena aku, dan mereka takkan membuat persahabatan ini hancur karena mereka. Karena kita tidak memiliki rules untuk menjadi seperti apa persahabatan itu nantinya. Kita hidup sebagai manusia yang bebas, seperti layaknya kebebasan yang dimiliki oleh tiap tiap mahluk hidup di dunia yang teramat sangat luas ini.

Kita bertemu hanya pada saat salah satu dari kita membutuhkannya, dan kita tidak saling memaksa untuk seharusnya menjadi seperti apa, hanya yang semestinya kita adalah manusia biasa yang membutuhkan rengkuhan tubuh dan perlindungan yang lebih dari sebuah kata kata. Selebihnya kita adalah empat manusia yang memiliki perbedaan dalam sudut pandang tentang hidup, dimana kita tidak menyalahkan siapapun untuk setiap derita yang masing masing dari kita rasakan. Saat pundak merasa lemas dan tidak sanggup untuk menahan beratnya badan ini, biarkan kita jatuh tersungkur, karena kita tahu semua terjadi atas pilihan yang telah masing masing dari kita ambil.

Kita berbeda, dan tidak ingin untuk disamakan. Kita sependapat untuk beberapa hal, namun tetap tidak ingin untuk saling bergantung. Kita adalah setajam duri dalam daging, paku disebelah anak tangga. Kita terkesan menyiksa, namun kita masih bisa berguna dibanding dengan duri diluar danging yang malah bisa sewaktu waktu menusuk dan melukai organ tubuhmu.

Sekedar sebuah renungan kata yang mampu membuat kita bersemangat untuk saling bertukar pengalaman dengan kalian, dan dari sisi peremajaan emosi itu kita seakan terasa lebih ringan dalam mengurai cerita, seperti saat emosi membakar kita, kita pasti akan diam dan mencoba untuk meneguk air dingin walau tidak meredam panas diluar, namun kita tetap dingin didalam, apapun itu, semoga kita dikenal sebagai manusia yang baik, dan manusia yang diharapkan untuk tetap hidup sehingga saat kematian kita datang semua orang akan merasa tidak percaya, karena kita memang diharapkan untuk selalu datang dan dapat terus membantu. Karena telah menjadi bagian hidup mereka.

hidup dan bisa diandalkan. Untuk kekasih kita tercinta, anak2 kita, dan teman teman kita. Dan untuk kamu.

img_8872.jpg

img_8876.jpg

Best regards.

Awik, Gentong, Bhaskoro, Esa

One Response to “kepercayaanku, untuk sahabatku”

  1. thebolotz Says:

    :)
    senyum aja aaaahhh!


Leave a Reply