bertemu.
April 30, 2009
di stasiun tugu pukul 01.30..
sudah cukup lama aku berdiam diri di kota jogja, hanya menatap wajahnya dalam layar 15″. beradu kata dalam media chating, beradu nada dalam media telepon, beradu dalamnya perasaan melalui media facebook. hm.. sudah cukup aku menahan rasa rindu yang cukup dalam ini. aku ingin bertemu. hanya ingin bertemu.
di dalam kereta bima pukul 05.00..
surabaya sudah dekat, yup.
aku tertuju pada playlist ipod. tertuju pada sinar matahari pagi di jawa timur, kagum pada embun yang melekat pada kaca jendela kereta ini, kagum pada yang menciptakan dunia dan seisinya, dengan hamparan sawah hijau, lengkap dengan alunan suara derap kereta api. Selesai aku melakukan sholat shubuh di dalam kereta, kemudian aku melamun membayangkan dirinya yang duduk menunggu di kota itu. aku sadar, aku dan dia memiliki perasaan yang sama, sebuah dentuman dalam hati, sebuah rentetan rencanya yang irrasional menjadi rasional. subhanAllah aku sudah dekat dengan surabaya. hanya itu kata – kata yang muncul dalam benakku berulang ulang. Read the rest of this entry »
pertemukan aku dengannya.
April 24, 2009
Pertemukan aku dengan harap, dengan dekap, malam yang gelap, dentuman hebat, dan tatapan penuh hangat.
Kembalikan aku pada waktu, pada satu, pada yang tak lagi semu, pada yang tak mungkin membelenggu, dan pada tujuan hidupku.
kereta itu siap mempertemukanku denganmu,
sudah menunggu satu bangku,
dan sekarung rindu atas puluhan-minggu yang menunggu,
bukan hanya sebuah pertemuan itu yang ku mau,
tapi lebih dari itu.
hanya kamu yang tau maksudku, pertemukan aku dengannya.
pertemukan saja aku dengan semua yang ada padamu, pertemukan saja tanpa perlu ragu, ijinkan aku menjadi kuping atas bibirmu. segalanya.. cukup pertemukan aku dengannya.
kamu nyebelin beib. 2009.
batin dan pikiran ini
April 7, 2009
memimpin tidaklah semudah seperti yang ku bayangkan di saat2 aku belum benar2 memimpin, ada 2 aspek yang sangat bertentangan dalam pengambilan keputusan ini. aspek pertama adalah hati kemudian aspek berikutnya adalah rasionalitas. bahkan dalam penjelasan dan penyampaian keputusan pun harus tepat sasaran dan sama sekali tidak terdengar klise. Pemimpin memang harus mengerti segala sesuatu yang dia pimpin mulai dari A hingga Z, ikut turun kedalam situasi yang dipimpin, serta ikut merasakan perasaan dan lelahnya menjadi mereka yang mengikuti alur kepemimpinan kita.
aspek hati dan aspek rasionalitas harus imbang, disinilah tingkat kesulitan saat harus mengambil keputusan dengan menyeimbangkan porsi hati dan porsi otak.
hati itu selalu menyangkut perasaan, melibatkan privasi, melihat seseorang dari sudut pandang pribadi, mengedepankan rasa emosional.
rasional itu selalu menyangkut keadilan, mengedepankan profit, memangkas diri menjadi seorang yang tegas dan sedikit kejam, meminimalisir toleransi, dan dekat dengan sebuah managerial yang profesional.
Allah selalu mengajarkan banyak hal padaku, lewat hembusan angin sore, pada tetesan keringat dan air mata, pada jiwa yang rapuh, serta pada kecupan seorang ibu sejak pertama kali diri ini berteriak sejak umurku baru 0 detik hingga sekarang 24 tahun lebih jutaan detik lamanya. Allah mengajarkan agar aku menjadi seorang pemimpin yang bijak, bahkan sejujurnya aku masih mencari apa sebenarnya yang Allah inginkan kepadaku untuk menjadi apa. meski aku terus mencarinya dan berharap bahwa aku sudah melakukan apa yang Allah inginkan kepadaku. Ya Allah, segelintiran sikap kepemimpinan ini sungguh aku ingin jalankan sesuai dengan perasaan dan rasionalitas yang benar-benar matang, benar-benar tidak berat sebelah. dan benar-benar mejadi pemegang amanahmu yang baik. sementara aku masih memimpin, sementara aku masih terus mencari keputusan yang terbaik demi mewujudkan amanah yang engkau berikan.




