Surabaya pukul tiga.
May 29, 2009
Masih saja aku bertanya berapa jumlah kamar-kamar yang kamu bangun dihatimu, meski kini ruangan-ruangan itu sepi tak berpenghuni, kamu tetap meladeni tanyaku tentang berapa jumlah sidik jari yang sudah membumi dengan telapak tanganmu, berapa jumlah kata sayang yang telah terucap sebelum kamu mengucapkannya padaku, aku masih saja bertanya.
Akankah ada lagi lelaki setelahku, aku menjadi gagu. Membisu, dan termengu.
Kamu berseru, sudah pasti dia buah hatiku, yang akan kita besarkan pada lembaran daun jati, pada kaus kaki yang kita simpan didalamnya.
Mamamu bertanya lagi tentang kedatanganku,
Aku jawab aku datang sedari awal untuk meminang bukan untuk sekedar menyewa kamar milik anakmu yg terbangun dan sengaja dibiarakan kosong.
Seumpama kamu memintaku mencari lagi wanita selain kamu saat kereta membawa kita meninggalkan tugu, lalu mengapa kamu menangis seolah takut kehilanganku. Mari berhenti mencari. Mari sudahi. Mari kita gelar sajadah dan berbagi separuh untukku separuh untukmu.





May 30, 2009 at 3:15 am
wih critanya euy menyentuh banget, btw anak sby yo? sby endi bos
May 30, 2009 at 3:57 pm
rasa cinta yang menarik ^^