Hey, Hijab

October 6th, 2011 § 4 Comments

saya punya perandaian yang lucu tentang sebuah kerudung:hijab:jilbab:kainpenutup, analoginya begini (meskipun sudah sangat umum), ketika hendak membeli makanan pasti pembeli memilih makanan yang telah terbungkus plastik, bukan makanan yang dibiarkan terbuka dan terkena udara seharian. pun memilih pakaian, pasti pembeli memilih pakaian yang masih plastik-an, bukan pakaian yang di-display di rak-rak toko. begitu juga ketika wanita yang “ditutupi” jauh lebih memiliki “nilai” lebih ketimbang yang “terbuka”.

analogi diatas rasanya cukup hambar ketika dilontarkan pada wanita-wanita yang “cerdas”, mengapa cerdas? karena banyak alibi yang mereka miliki untuk menepis hal tersebut, rasa tidak terima kalau disamakan dengan sebuah barang, atau bagi mereka kata “bungkus” bukan menjadi sebuah kriteria untuk memberikan “nilai lebih” kepada mereka, apapun lah. mereka sungguh sangat cerdas dengan pemikiran mereka masing-masing.

dan saya pribadi sangat menghargai perbedaan tersebut, para kaum hawa diciptakan dengan karakter mereka masing-masing, ada yang memang mendapatkan hidayah untuk mengenakan kain penutup, ada yang belum, bahkan ada yang mendapat hidayah untuk tidak menggunakannya (lhoh?). tapi bagi saya pribadi, saya lebih menyukai para wanita yang memilih untuk bersanding dengan kain penutup auratnya.

kain penutup aurat bagi saya bukanlah sebuah paksaan, ajakan, atau bahkan rayuan. karena kain tersebut datangnya langsung dari langit, bukan dari tangan-tangan manusia. perintah mengenakannya pun sudah jelas di tuliskan pada sebuah kitab, bukan pada sebuah artikel dan opini seseorang. sehingga cara termudah untuk mewujudkan gerakan sadar aurat adalah dengan cara membiarkan perintah dari langit itu turun sendiri kepada wanita-wanita “cerdas” yang saya maksudkan di atas tanpa campur tangan para manusia disekitarnya.

saya pribadi kebetulan memiliki cara pandang yang berbeda terhadap para perempuan “sadar aurat” dan perempuan “cerdas”, mereka semua memiliki kekurangan dan kelebihan nya masing-masing, sehingga ketika saya kebetulan sedang berhadapan dengan kedua karakter perempuan/wanita yang berbeda tersebut, pun saya memiliki sikap yang berbeda-beda dibuatnya. terkadang saya terkagum sekagum kagum nya dengan perempuan-perempuan “sadar aurat”, dan sering kali saya terpesona sepesona pesona nya dengan perempuan-perempuan “cerdas”. kata kagum dan pesona memiliki makna yang berbeda pula, anda pasti sudah bisa mengartikan perbedaan makna kata diatas.

satu hal yang paling menohok diri saya pribadi sebagai seorang penilai terhadap kedua karakter perempuan diatas adalah: ketika kesempatan untuk dapat memiliki dua rasa yang sama-sama luar biasa-nya itu tidak dapat saya rasakan, karena perempuan “sadar aurat” bisa memberikan rasa kagum terhadap suaminya saat diluar rumah, dan bisa memberikan pesonanya khusus hanya untuk sang suami ketika mereka sedang dirumah. namun perempuan “cerdas” hanya bisa memberikan pesonanya saja, baik di luar atau di dalam rumah. atau yang lebih parah adalah pesona itu bisa jadi diobral habis-habis-an kepada lelaki lain yang bukan suaminya ketika di luar rumah. huallahualam bishowab.

saya tergelitik ketika mencoba memahami cara pandang perempuan “cerdas”, kain penutup bagi mereka bisa dianggap sebagai penutup semua peluang di dunia mereka. kalau mereka seorang wanita karir, bisa jadi kain penutup menjadi pengurang daya tarik mereka kepada atasan-atasannya. kalau mereka seorang wanita sosial, bisa jadi kain penutup menjadi tembok penghalang mereka untuk bisa bergaul dengan komunitas plural. kalau mereka seorang non-agamis, bisa jadi kain penutup menjadi lambang kepalsuan dihidup mereka. ada-ada saja pemikiran asal-asal-an di dalam benak saya. meskipun pemikiran saya mungkin ada benarnya juga. haha..

apapun itu, kain penutup memiliki unsur keindahan tersendiri. seperti hal nya ketika seorang lelaki seperti saya yang mampu larut dan tenggelam dalam keteduhan hijab. tidak aneh bila saya terkadang diam termenung tanpa sadar memperhatikan perempuan-perempuan sadar aurat. entah, mungkin itu juga hidayah yang saya miliki untuk bisa menghormati para hijabers, seperti hal nya saya menghormati para non-hijabers.

wanita adalah perhiasan, dan sebaik-baik nya perhiasan dunia adalah wanita berhijab. kalau anda mau tau seperti apa kira-kira penampilan perempuan “sadar aurat”, saya sangat bersedia menampilkan contoh gambar demi gambar yang saya ambil dari pencarian kata kunci “hijabers” di google.com

terlepas dari sisi keimanan mereka, saya tidak akan menilai. karena saya sebagai manusia tidak berkompeten untuk menilai keimanan seseorang baik dari segi penampilan, perkataan, bahkan kehidupan mereka. yang saya tau mereka-mereka ini pasti “belajar” untuk memperlakukan suaminya kelak untuk dapat merasakan “kekaguman” dan “pesona” dari seorang wanita, dua rasa dari satu isteri.

hijabers1

wow

woow

woow

wooow

wooow

woooow

woooow

Advertisement

Tagged: , ,

§ 4 Responses to Hey, Hijab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hey, Hijab at Hey, Awik.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.